Showing posts with label Motivation. Show all posts
Showing posts with label Motivation. Show all posts

Monday, October 1, 2012

There Will Come a Day...


Beberapa waktu yang lalu, salah satu temen saya ada yang nanya gini,

"Kamu udah hampir setengah tahun jomblo, kan?"

"Iya. Kenapa?"

"Nggak ada niat cari yang baru lagi?"

"Ya ampun...baru juga hampir setengah tahun. Yang udah putus sama pacarnya 2 taun aja juga ada, kok." --> saya jawab sambil ketawa.

"Emang nggak ngerasa kesepian, gitu?"

"Kenapa harus kesepian? Mami-daddy masih ada, anak tetangga juga masih mau dipanggil ade', sohib-sohib di kampus juga masih ngelilingin."

"Nggak kangen diajakin keluar tiap malem minggu?"

"Hahaha...justru malah seneng kalo malem minggu di rumah aja. Istirahat, non. Jadwal di kampus seminggu padat merayap kecuali Sabtu sama Minggu. Kan masih bisa dipake nonton drama Korea." --> saya jawab sambil ketawa lagi.

"Betah banget ngejomblonya. Jangan-jangan masih ngarep sama yang terakhir kemarin, ya? Sampe-sampe nggak mau nyari gantinya?"

"Nggak, tuh. Apanya yang diharapin kalo udah selesai...tamat...the end dari segala aspek? Kamu kan tau sendiri dia orangnya kaya' gimana."

***

Saya nggak akan nyeritain semua isi percakapan saya sama temen saya itu, tapi dari situ udah jelas keliatan inti "permasalahan" ada di mana.

Yup...memang bener saya sekarang bisa dibilang jomblo. Hmm...bukan, bukan, bukan. Saya lebih suka disebut single ketimbang jomblo. Ada perbedaan antara jomblo dan single, hehe...

Saya rasa nggak ada yang salah dengan status single saya, kok (cuma emang kadang temen-temen saya aja yang riweuh, nyuruh saya cepet-cepet cari pacar lagi)

Setiap kali ditanyain masalah itu, jawaban saya selalu sama :

"MUNGKIN NGGAK SEKARANG"

Jarak yang baru hampir enam bulan pasca putus saya rasa masih terlalu "cepet" untuk bikin sebuah hubungan baru buat saya. Bisa dibilang saya sudah cukup "lelah" berulang kali gagal buat urusan love. Saya nggak mau gagal untuk yang kesekian kalinya, sakit hati untuk yang kesekian kalinya, trus berusaha move on atau apalah itu namanya.

Alasan lain kenapa sampe saat ini saya masih juga betah sendiri adalah karena perasaan takut. Iya, saya nggak akan bohong kalo saat ini saya bener-bener takut buat terikat dalam sebuah hubungan lagi. Rasa takut dikecewain, disakitin, dikhianatin atau apapun itu yang menyakitkan terus-terusan menghantui saya. Apa ini bisa disebut trauma? Mm...mungkin. Bisa jadi begitu.

So far, saya berusaha enjoy dengan kesendirian saya. Saya berusaha aktif di kampus, lebih deket sama temen-temen dan lebih deket lagi sama daddy ataupun mami. And it works. Pelan-pelan saya bisa bangkit dari "keterpurukan" atau "kegalauan" saya. Makasih banget buat kesibukan saya sebagai anggota Lembaga Kemahasiswaan di kampus yang udah "mengambil alih" waktu saya yang biasanya cuma dipake buat galau.

Nyaris sekarang nggak ada waktu buat mikirin cari pacar karena saya fokus ke kuliah dan kerjaan saya yang nyaris nggak ada habisnya juga. Ada untungnya juga sih sebenernya kalo lagi single gini. Pikiran cuma fokus ke kuliah sama kerjaan, jadi hasilnya lebih maksimal disitu juga, nggak nyabang kemana-mana.

Saya mah orangnya nyantai aja sekarang. Saya pikir sekarang bukan waktu yang tepat buat bikin relationship baru. Nggak perlu lah, saya maksain diri cuma gara-gara temen saya udah dorong-dorong buat nyari pacar. Lagipula, saya juga masih harus ngilangin rasa takut saya tadi. Nggak lucu kaya'nya kalo saya punya pacar, tapi masih kepikiran ini lah, itu lah. Berantakan nanti malahan jadinya.

Seneng banget sama kata-kata "mungkin nggak sekarang" yang selalu saya pegang saat ini. Saya percaya Tuhan emang udah nyiapin yang baru dan terbaik buat saya, tapi waktunya mungkin nggak sekarang. Tuhan lagi ngasih kesempatan buat saya berbenah diri dan bersiap dulu. Saya yakin kok kalo saya udah siap, pasti apa yang disiapin buat saya itu tadi langsung dikasih ke saya. Saya akan tetep stay nungguin, sampe saat itu tiba... :)



XOXO
-chandni-

Monday, June 4, 2012

A Story to Remember

Actually I can’t remember exactly, when I could read and write for the first time. As far as I remember, before entering school (kindergarten), I could read just some easy Indonesian words. If I’m not mistaken, it was when I still 4 (four) years old.

I was born into a teacher’s family. Both of my parents are kindergarten teachers. That’s why I grew up with some things that related to kindergarten such as story books, toys, spelling books, etc. When I was 3 (three) years old, my parents often asked me to go to their school so that I could join their class. In 1995, pre-school had not been too popular.

Pre-school was different with kindergarten. In Indonesia we called it as “kelompok bermain” and people said that pre-school was an introduction for kids before they enter kindergarten. Only children younger than 4 years were allowed to enroll in this school. Actually I was old enough to enroll pre-school, but because the distance between my parent’s kindergarten and pre-school were really far, they canceled it. That’s why, my parents took the initiative to take me to their school, although not everyday (usually two or three times per week).

When I didn’t join their class, I just stayed at home, waiting for them to come home. I was so happy when they got back from their work. They often brought me spelling books, story books, and kid’s magazines. I didn’t know, I had an interest in books since I was a child. Before I could read, I liked looking to story books, just because there were a lot of pictures in them. Every night before I went to bed, I always asked my dad to read them to me.

After a long time, I became bored. I wanted to read the books by myself. Beside that, I also wanted to write after I saw my dad writing a letter for his friend. Fortunately my dad understood it. After he got back from his work, every afternoon, he always taught me to read. Unfortunately he didn’t teach me how to write because he thought that it was not the right time for me to write.

First, he taught me with spelling books. I remember, my first word that I read was, “ibu” (spelled as “i-bu”). It was one of the best memories I’ve ever had, hahaha... But actually that was not the first time for me to speak, because I could speak since I was (almost) 1 year old, although it was not a clear word. As far as I remember, my first word that I said was my nickname, “Nana”.

I remember, inside the spelling books, there were a lot of attractive pictures, such as animals, numbers, family, and many more. Under each picture, there was a word that describe the picture. For example, under the picture of a mother, there was a word “i-bu” so I had to read it as “ibu”.

I’m so thankful because I was a fast learner (I don’t mean to be arrogant, but that’s the fact). In just a one or two weeks period, I could read fluently. Of course my parents were so proud of me, especially my dad. He taught me intensively to read everyday.

In 1996, when I was 4 years old, my parents signed me up for kindergarten. They didn’t sign me up to the school where they worked because they didn’t want me to be spoiled.

In kindergarten I learned many things (but not writing), not only played with my friends. My teacher taught me and my friends to sing and clap our hands. I also played with children building blocks, spelled some simple words, and learned something that my dad never taught before. How to write!

I was so excited when my teacher taught me to write for the first time. First, she taught me how to hold a pencil correctly. After that, she taught me how to make a line on the paper. At the beginning, it felt difficult to write because it was something new for me (and my friends too, actually). But after some time, finally I could do it. I was not only made a line on the paper, but my teacher also taught me to write some words and letters, including our nickname.

After my teacher taught me to write at school, I tried to practice it by myself at home. When I found any difficulties, I asked my dad to guide me and he would be there to help me.

About 6 months ago I asked my dad, how did he learn to read and write? Did he use the similar method to teach me? The answer is, yes. His method to read and write was similar to mine. The only difference between me and him was just our age when we could read and write for the first time. I could read and write before 6, but my dad could do that when he was 7 years old.

Based on my experience above, I think the biggest influence was my dad, because he taught me everything. The second was myself, because I felt that read and write were important.



XOXO
-chandni-

Friday, May 4, 2012

A Little Motivation from Elementary School

Akhir-akhir ini saya lagi seneng ngelamun dan berpikir sendiri. Well...bukan ngelamunin atau mikirin sesuatu yang jelek-jelek atau gimana, tapi saya mikirin diri saya sendiri di masa lalu. Iya, saya mikirin gimana "bentuk" saya jaman dulu, yang jelas-jelas beda banget sama keadaan saya sekarang.

Kalo sekarang saya seorang mahasiswi biasa, yang hidupnya biasa-biasa aja, isinya juga cuma kuliah, "gaul" dikit sama temen-temen, ikut kegiatan kampus secukupnya, pulang, jadi cewe' rumahan, udah. Begitu terus tiap harinya. Dulu saya nggak begitu. To be honest saya nggak begitu, apalagi waktu saya SD, dan hal itu adalah hal yang PALING SAYA KANGENIN saat ini. Saya ngarep banget kalo hal-hal baik yang ada waktu saya masih SD itu balik lagi ke saya.

Semasa saya SD, saya ngerasa jadi orang paling bahagia. Gimana nggak? Orang tua selalu ngawasin saya, apa-apa diperhatiin, apa-apa diturutin. Belajar juga itungannya masih rajin karena selalu diawasin. Bukannya mau sombong, tapi semasa SD itungannya saya anak favorit guru-guru. Rata-rata mereka seneng sama saya karena prestasi saya di sekolah tergolong bagus. Sering ranking 1, percaya diri, aktif ikut kegiatan sekolah, supel, yah...bisa dibilang "anak emas" gitu lah. Tiap ada lomba akademik, yang mewakili sekolah, baik tingkat kota atau nasional, pasti saya diikutin. Bener-bener masa itu adalah masa dimana saya lagi ada "di atas".

Tapi lain lagi ceritanya begitu saya masuk SMP, kemudian SMA. SMP dan SMA bener-bener masa yang "berat" buat saya karena saya harus menyesuaikan diri sama lingkungan baru. Lepas dari SD saya yang swasta, saya masuk ke SMP dan SMA negeri, yang amat sangat jauh berbeda keadaannya. Kalo dulu jaman SD saingan saya "cuma" orang-orang yang jumlahnya puluhan, SMP dan SMA meningkat jadi ratusan dan saya jadi terbebani sama hal itu.

Saya tau, harusnya saya nggak boleh gitu, sekalipun saya udah nggak berada di lingkungan SD, dimana saya jadi "anak emas" guru-guru saya disana. Harusnya itu jadi motivasi buat saya lebih maju lagi, tapi ternyata kenyataannya beda.

Semasa SMP, saya ngerasa kalo saya mengalami apa yang disebut oleh orang kebanyakan sebagai "krisis PD (Percaya Diri)". Seriously, setelah masuk SMP saya justru jadi lebih minder ketimbang waktu saya masih SD. Saya nggak tau. Saya bener-bener nggak tau hal apa yang sampe bikin saya krisis PD kaya' gitu. Cuma dulu saya sempet mikir, "Ya ampun...ternyata temen-temen SMP kok ngeri-ngeri gini, ya? Pada pinter-pinter semua. Aku nggak ada apa-apanya dibanding mereka."

Masa SMP itu juga saya ngerasa kalo saya mulai "nyantai" belajarnya. Di rumah jarang belajar kalo nggak ada PR, ulangan, atau tes. Apalagi waktu itu orang tua saya juga mulai sibuk sama kerjaan mereka, jarang ngawasin saya lagi kaya' dulu, jadinya saya juga nyantai. Semua terserah saya karena mereka nganggep saya udah mulai gede dan harus bisa melakukan sesuatu sendirian. Selanjutnya udah bisa ditebak, hasil belajar saya ya cuma pas-pasan. Bagus banget enggak, jelek banget juga enggak.

Waktu itu saya ngerasa biasa-biasa aja sama apa yang terjadi sama saya. Nggak pernah tuh yang namanya nyesel atau gimana. Pokoknya waktu itu nggak ikut remidi ulangan atau tes aja udah seneng, lulus nilai pas-pasan juga biasa aja.

Parahnya, situasi itu berlanjut sampe SMA. Bahkan masa SMA adalah masa krisis PD yang "paling berat dan paling parah". Bayangin aja, maju presentasi di depan kelas aja saya bisa sampe keluar keringet dingin deres banget, padahal cuma diliatin temen sekelas sama guru doank. Saya terlalu takut kalo saya bikin salah dan temen-temen akan natap saya sinis sambil ngomong, "Ih, apaan sih ini?". It's true, saya terlalu paranoid sama hal-hal buruk yang padahal pada kenyataannya juga nggak terjadi. Parah...

Setelah masuk kuliah, baru saya ngerasa kalo minder saya agak berkurang lagi, tapi tetep masih belum bisa ngembaliin PD yang saya punya waktu masih SD dulu. Presentasi di depan kelas juga masih suka nervous, tapi nggak separah waktu SMA. Kebiasaan belajar? Mm...masih sama kaya' SMP-SMA, sih. Cuma kali ini bedanya, kalo saya nyantai di awal, di akhir-akhir saya harus mau kerja keras. Kalo nggak, saya pasti jatuh sejatuh-jatuhnya. Semua ada konsekuensinya. So far sih Alhamdulillah nilai saya minimal ya B lah.

Begitu kuliah saya juga mulai ikut aktif di 1 kegiatan (Reader's Theater, dari semester 1 sampe sekarang). Tujuannya apa? Nggak lain dan nggak bukan saya mau ngembaliin rasa PD sama apa yang sempet ilang dari diri saya. Saya bener-bener mau balik jadi diri saya waktu SD dulu. Maksudnya bukan kekanak-kanakannya, tapi PD-nya yang tinggi, aktif di kelas maupun di luar kelas, supel sama siapa aja.

Saya HARUS BISA ngilangin kebiasaan jelek saya yang terlalu takut sama pendapat orang sebelum saya nyoba. Gimana saya bisa tau reaksi atau pendapat mereka kalo belum-belum saya udah takut? Udah nggak percaya sama kemampuan diri sendiri? Bayangin dulu waktu SD. Kenapa dulu saya bisa sukses di dalem maupun luar kelas? Karena saya ngerasa waktu itu PD saya tinggi dan saya nggak peduli apa kata orang sebelum saya maju dan nunjukin kemampuan saya. Kritik atau pendapat mereka itu urusan belakangan, akan saya pikirin setelah saya selesai maju atau perform, dan itu terbukti jadi kunci kesuksesan saya waktu itu.

Saya nggak akan muluk-muluk dulu, saya harus jadi the best dengan IPK tinggi atau langsung dikenal sama orang banyak. Bukan yang seperti itu. Yang terpenting buat saya sekarang adalah, saya harus balik PD lagi kaya' dulu sama aktif di dalem maupun di luar kelas. Kalo 2 hal itu udah saya pegang, Insya Allah IPK tinggi atau (mungkin) juga dikenal orang, bisa saya pegang juga, dan itu kaya' semacam reward atau bonus. :)



XOXO
-chandni-

Friday, April 27, 2012

A Little Motivation from Kelly

"What Doesn't Kill You (Stronger)"
- Kelly Clarkson -

You know the bed feels warmer
Sleeping here alone
You know I dream in colour
And do the things I want

You think you got the best of me
Think you had the last laugh
Bet you think that everything good is gone
Think you left me broken down
Think that I'd come running back
Baby you don't know me, cause you're dead wrong

What doesn't kill you makes you stronger
Stand a little taller
Doesn't mean I'm lonely when I'm alone
What doesn't kill you makes a fighter
Footsteps even lighter
Doesn't mean I'm over cause you're gone

What doesn't kill you makes you stronger, stronger
Just me, myself and I
What doesn't kill you makes you stronger
Stand a little taller
Doesn't mean I'm lonely when I'm alone

You heard that I was starting over with someone new
They told you I was moving on, over you

You didn't think that I'd come back
I'd come back swinging
You try to break me, but you see

What doesn't kill you makes you stronger
Stand a little taller
Doesn't mean I'm lonely when I'm alone
What doesn't kill you makes a fighter
Footsteps even lighter
Doesn't mean I'm over cause you're gone

What doesn't kill you makes you stronger, stronger
Just me, myself and I
What doesn't kill you makes you stronger
Stand a little taller
Doesn't mean I'm lonely when I'm alone

Thanks to you I got a new thing started
Thanks to you I'm not the broken-hearted
Thanks to you I'm finally thinking about me
You know in the end the day you left was just my beginning
In the end...

What doesn't kill you makes you stronger
Stand a little taller
Doesn't mean I'm lonely when I'm alone
What doesn't kill you makes a fighter
Footsteps even lighter
Doesn't mean I'm over cause you're gone

[2x]
What doesn't kill you makes you stronger, stronger
Just me, myself and I
What doesn't kill you makes you stronger
Stand a little taller
Doesn't mean I'm lonely when I'm alone

Lirik lagu di atas adalah lirik lagu dari salah satu penyanyi wanita favorit saya, Kelly Clarkson. Dari judulnya aja udah keliatan kalo isi lagu ini ngasih "motivasi" buat kita-kita. Setelah saya dengerin lagunya, saya pahami liriknya, ternyata bener. Lagu ini bisa jadi motivasi.

Menurut interpretasi saya, dalam lagu ini si penyanyi cerita tentang someone special yang ninggalin dia (entah karena punya pacar lagi atau apa) lalu dia berjuang gimana caranya supaya dia tetep tegar menghadapi kenyataan itu.
Si penyanyi percaya bahwa apapun yang tidak "membunuhnya" justru membuat dia lebih kuat. Contoh yang paling gampang buat kita-kita adalah PUTUS CINTA. Putus bukan berarti kiamat, kan? Masih ada hal-hal lain yang bisa dilakukan.

Dimana-mana memang yang namanya putus itu nggak enak. Apapun alesannya, tetep, yang namanya putus itu pasti sulit diterima pada awalnya (apalagi buat para cewe'-cewe'). Cuma gini deh, kita perlu mikir juga, alesan putus itu sendiri itu apa? Kalo memang putusnya gara-gara si cowo' ninggalin si cewe' buat jalin hubungan baru sama cewe' lain, ya kenapa harus terpuruk lama-lama? Wake up, girls. Masih ada cowo' lain yang lebih baik, yang akan jadiin kalian prioritas dan bukannya pilihan.

Disini memang saya cuma menyebutkan salah satu alesan itu aja, karena saya cari alesan yang paling mendekati sama isi lirik lagu di atas. Setelah putus, jangan tunjukkan pada si mantan kalo kita jadi terpuruk, down, atau apalah. Itu justru akan membuat si mantan merasa seneng karena dia berhasil "mengobrak-abrik" kita. Lihat deh dari lirik lagu di atas, DOESN'T MEAN I'M OVER 'CAUSE YOU'RE GONE. Jadi, walaupun si mantan udah pergi, bukan berarti kita berakhir.

Lebih baik kita tunjukkan sama si mantan kalo kita masih bisa terus hidup, masih bisa seneng, masih bisa melakukan apapun yang bikin kita seneng, walaupun udah nggak bareng sama dia lagi. Apa yang perlu kita lakuin pertama kali cuma berpikir positif kok. Berpikirlah bahwa, "berkat dia kita bisa dapet hal atau pelajaran baru", "berkat dia kita nggak jadi patah hati", "berkat dia akhirnya kita punya kesempatan untuk lebih mengenal dan menyayangi diri kita sendiri". Bisa juga berpikir bahwa di hari dia meninggalkan kita, di saat itulah awal yang baru sedang menghampiri kita. Si mantan baru sadar akan hal ini di akhir-akhir, setelah lihat kalo kita udah berhasil MOVE ON.

Yakinlah walaupun kita sendirian, bukan berarti kita kesepian. Putus cinta juga nggak akan membunuh kita, apalagi kalo alesannya seperti yang saya sebutin sebelumnya. Justru itu akan lebih memotivasi kita buat terus maju dan MOVE ON

Menurut saya pribadi sih lagu Kelly Clarkson ini enak didengerin. Suara powerful-nya Kelly nyantel banget di kuping dan kerasa banget motivasinya. Yah...sekiranya lagu ini beneran bisa jadi motivasi buat kita, terutama para cewe'-cewe' yang lagi patah hati karena putus cinta, hehe...



XOXO
-chandni-